Latest from my journal

senyumin ajaa :)

"La Takhaf Wa La Tahzan, Innallaha Ma'ana.

Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih, Sesungguhnya Allah Bersama kita"

Kehidupan yang kita jalani akan terus menghadapkan kita pada suatu pilihan. Memilih untuk tetap diam, terus maju atau bahkan memilih untuk mundur. 

Kadang kita lebih mengedepankan keinginan daripada kebutuhan. Ingin "tetap disana" tapi sebenarnya yang kita butuhkan "bukan disana". 
Lalu apa yang sebaiknya aku pilih???
Kala itu aku memilih untuk tetap diam, karena aku berpikir bahwa tidak ada pilihan lain. Ternyata itu salah. Karena sebenarnya itu hanyalah pikiran negatif yang muncul ketika rasa takut lebih kuat dari rasa keberanian dan  keraguan lebih besar dari keyakinan.

Sebuah masalah bukanlah untuk dihindari tetapi dihadapi. Memang pada kenyataannya berkata lebih mudah dari bertindak. Tapi tidak akan ada yang tahu seberapa tangguhnya dirimu dalam menghadapi masalah, kalau bukan dirimu sendiri yang mencobanya..

Aku menyadari bahwa ketakutanku saat itu telah mengubah diriku secara perlahan. Mengkompronikan hal yang tak seharusnya aku biarkan. Menjadikannya biasa karena aku telah terbiasa.

Ahh, malu jika aku ingat masa itu.
Lebih tepatnya menyedihkan.
Karena ketakutanku lebih besar kepada makhluk-Mu daripada Engkau ya Rabb.
Aku meragukan pertolongan-Mu padaku.

Tetapi, ketika aku menyadari bahwa aku telah membiarkan kesalahan yang berkepanjangan. Diam bukanlah pilihan. Aku perlu bergerak... bertindak. Menguatkan keyakinan dan keberanianku. Siap dengan konsekuensi atas pilihan yang aku ambil.
Kala itu aku yakinkan diriku bahwa ada Dia yang menolongku. Semua yang aku lakukan hanyalah untuk menggapai ridhoNya semata. Dari keyakinanku itulah aku berhasil mungubah rasa takut dalam diriku menjadi sebuah keberanian.

Mungkin bisa saja aku memilih mundur tanpa perlu mencobanya. Tapi tidak aku lakukan. Aku memilih untuk terus maju. Meskipun aku sadar, rasa takut ini masih dengan setianya bergelantung dalam hatiku. Mendorongku untuk menyerah. Tapi tidak... aku harus yakin... memilih sebuah pilihan harus dengan berani. Aku berharap, tidak hanya aku yang menginginkan perubahan baik ini. Sesungguhnya Allah Swt menyeru kita untuk berfastabiqul khoirot, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. 

Nah, ketika kita telah menetapkan sebuah pilihan dan menjalankannya. Maka sebuah proses akan menuntun kita pada sebuah hasil. Kini, aku sedang berproses. Meski awalnya rasa takut kian hilang timbul dalam hati karena tak semanis yang diharapkan. Tapi yakinlah bahwa semua ini hanyalah pengantar sebuah  perubahan. Dan yakinlah bahwa kebaikan akan menularkan kebaikan pula. Kalaupun pilihanku untuk maju ini tidak diterima dengan baik maka, aku siap mundur. Mundur dalam arti kata positif. Bukan sesuatu yang lemah ataupun terpuruk. Aku mundur, untuk memilih jalan lain yang Dia pilihkan untukku.


Bagaimana nantinya... senyumin ajaa :)



Guruku


Guruku,
Laksana mentari pagi menyinariku
Hangat menyapa dalam ketidaktahuanku
Menghadirkan rasa juga asaku

Guruku,
Hadirmu memberi bahagia untukku
Bahkan pelangipun ikut tersenyum melihatmu
Lembut menatap hari, mengiringi langkah setiamu

Guruku,
Lelahmu tak pernah kau rasa
Membangkitkan semangat yang keras bagai baja
Bukti pengabdianmu pada bangsa

Guruku,
Suaramu masih saja lantang ku dengar
Meski ku lihat, wajahmu tampak pucat membeku
Namun, kau relakan dirimu demi mengajarkanku

Guruku,
Denting waktu terus berlalu ditelan masa
Namun ilmu yang kau berikan tak akan pernah sirna
Tak pula pudar walau badai menerjang

Guruku,
Sejatinya kau hadir atas kuasa-Nya
Memilihmu menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
Karna pengabdianmu tak terlihat nyata namun bernilai ibadah

Guruku,
Salam beriring doa tercurah untukmu
Akan pinta yang tulus dariku untukmu
Sebuah keberkahan juga kebahagiaanmu

Guruku,
Terimakasih untuk semua ilmu yang kau berikan
Karenamu, lahirlah bintang kelas dunia
Karenamu, aku terjaga dari kebodohan yang menyesatkan

















Senja Kala Itu

Senja kala itu, aku membisu
Ragaku tegak berdiri namun, rapuh
Pikirku berkelabut tentang dirimu
Memandang asa yang kian menjauh
Karena bayangmu tak lagi satu

Senja kala itu, aku terenyuh
Melepas rasa yang kian tumbuh
Bersama hembusan angin, ku biarkan ia luruh
Kendaliku agar tak lagi jatuh
Upayaku agar tak lagi sesak merindu









Berhenti untuk Tidak Peduli

Sebagai seorang manusia, kita sering kali terlena oleh nikmatnya dunia. Hingga kita lupa ‘untuk apa kita diciptakan’ di dunia ini.

Ingatlah akan  firman Allah Swt dalam QS. Adz-Dzariyaat: 56
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Sungguh aku tersadar, bahwa tujuan Allah Swt menciptakan kita tidak lain adalah untuk beridadah kepada-Nya. Namun, mengapa kita masih saja lalai akan perintah-Nya?

Aku jadi teringat sebuah kutipan seseorang yang menarik perhatianku,
“... Karna banyak yang orang Islam hanya mengikuti rutinitas saja (tidur, kerja, makan, liburan tanpa adanya rasa ghirah berjuang untuk agama ini)”

Sadarkah, semakin lama rasa kepedulian kita kian sirna. Kita terlalu sombong dengan kehebatan diri sendiri, hingga lupa pada Sang pencipta juga pada saudara-saudara muslim di sekeliling kita. Lupa, bahwa kita sebagai seorang muslim sepatutnya berjuang bersama untuk agama ini. Mungkin, kita terlalu asyik menikmati hari tanpa menghadirkan Dia dan mungkin kita terlalu “masa bodo” dengan kondisi umat muslim di sekitar kita, hingga bersikap acuh pada agama ini. Atau mungkin kita sendiripun tidak paham dengan agama ini hingga membuat diri mudah dibodohi.

Wahai diri dan saudariku...
Jangan biarkan hati kita tergoyahkan oleh hawa nafsu belaka, yang hanya mematikan rasa kepedulian kita.
Jangan biarkan pikiran kita tercemari oleh pemikiran kaum idealis yang hanya meruntuhkan iman islam kita.
Dan jangan biarkan diri kita terbuai oleh nikmatnya dunia, yang hanya melemahkan keistiqomahan kita memperjuangkan agama ini.

Wahai diri dan saudariku...
Kuatkanlah iman islam mu. Istiqomahlah di jalan dakwah ini.
Berhentilah untuk tidak peduli. Karena sungguh, rasa ketidakpedulian akan memutus ukhuwah...
Jangan biarkan diantara kita ada yang berhenti dan keluar dari lingkaran ukhuwah ini. Karna sungguh, sendiri akan membuat dirimu ataupun aku menjadi lemah.

Ketahuilah, dengan jamaah Islam akan bersatu, satu pemahaman, satu tujuan, satu kekuatan besar yang kelak akan mampu melawan kebathilan dan kejahiliyahan yang melanda negeri ini.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Hendaklah kamu berada dalam jamaah kerana sesungguhnya berjemaah itu rahmat sedang perpecahan itu adalah azab. “

Yuk, bersama-sama kita tingkatkan rasa kepedulian kita untuk menegakkan kejayaan Islam.... karna dengan bersatu kita menjadi utuh...

Semoga bermanfaat~