Latest from my journal

Adab/Tata Cara Makan dan Minum Menurut Islam

Banyak hal yang sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adab/tata cara makan dan minum menurut Islam. Apalagi, di zaman modern saat ini. Sering kita jumpai tidak tersedianya bangku yang cukup untuk makan ketika menghadiri suatu acara di gedung mewah. Kemudian, iklan minuman di tv yang sering kali memperlihatkan cara minum yang salah “berdiri, dan menggunakan tangan kiri”, sangat disayangkan sekali bila anak-anak yang melihatnya, dan malah akan menirunya. Selain itu, banyak orang tua yang menyuapi anaknya makan, ketika anak itu sedang main lari-larian. Banyak hal kecil yang terlupakan dan ditinggalkan. Padahal, dari hal kecil itulah hal besar bisa kita lakukan.
 
Nah, untuk itu marilah kita tetap menjaga akhlak dengan meneladani Rasul dalam urusan makan dan minum sekaligus mendapatkan pahalanya, berikut diuraikan tata cara dan budaya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih/lemak (karena tidak dicuci) dan ketika bangun pagi ia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”
2. Tidak mencela makanan yang tidak disukai.
Abu Hurairah ra. berkata : “Rasulullah SAW tidak pernah sedikit pun mencela makanan. Bila beliau berselera, beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada keluarganya (istrinya) tentang lauk pauk. Mereka menjawab : “Kami hanya punya cuka”. Lalu beliau memintanya dan makan dengannya, seraya bersabda : “Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka (al-khall), sebaik-baik lauk pauk adalah (yang mengandung) cuka.” (HR. Muslim)
Penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang dalam bukunya ’The True Power of Water’ menemukan bahwa unsur air ternyata hidup. Air mampu merespon stimulus dari manusia berupa lisan maupun tulisan.
Ketika diucapkan kalimat yang baik atau ditempelkan tulisan dengan kalimat positif, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang indah dan bisa memiliki daya sembuh untuk berbagai penyakit.
Sebaliknya, jika diucapkan maupun ditempelkan kalimat umpatan, celaan atau kalimat negatif lainnya, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang jelek dan bisa berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
3. Diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT.
yaitu dengan makan diharapkan kebutuhan biologis akan makanan terpenuhi, yang nantinya akan diolah oleh tubuh menjadi energi, dan dengan energi tubuh yang dihasilkan dari makanan dan minuman tersebut kita gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Allah kepada kita (qana’ah). Hal ini sesuai dengan hadist Nabi saw.
“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setip orang adalah apa yang diniatkannya”. (HR. Bukhori).
4. Membaca Basmalah dan Hamdalah.
Memulainya dengan membaca “basmalah” serta doa. Hal ini merupakan manifestasi ibadah dalam bentuk yang paling minimal.
Sebab bila tidak menyebut nama Allah, setan niscaya akan turut makan bersamanya, dan dengan demikian hilanglah nilai ibadahnya.
Lantas apa bedanya dengan orang kafir? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:
Dan dari Jabir berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang masuk dalam rumahnya dengan mengucapkan “bismillah” ketika masuk dan ketika hendak makan, maka setan berkata kepada temannya: ‘tiada tempat tinggal dan tiada bagian makanan bagimu disini’. Sedangkan bila orang itu masuk tanpa menyebut nama Allah, maka setan akan berkata:’Kamu dapat bermalamdi rumah ini’. Kemudian jika waktu makan tidak menyebut nama Allah, setanpun berkata: ‘kamu dapat bermalam dan makan disini’.” (HR.Muslim).
Rasulullah SAW bersabda : “Jika seseorang di antara kamu hendak makan, maka sebutlah nama Allah SWT. Dan jika ia lupa menyebut nama-Nya pada awalnya, maka bacalah, ’Bismillahi awwalahu wa akhirahu’ (Dengan menyebut nama Allah SWT pada awalnya dan pada akhirnya).”(HR. Abu Dawud)
Jika lupa di awal makan, maka ucapkanlah segera saat teringat.
Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah r.a, sebagai berikut: “Bila salah seorang diantara kamu hendak makan maka ucapkanlah “bismillah”, namun bila ia lupa di awalnya, maka ucapkanlah ‘bismillahi awwaluhu wa akhiruhu’(dengan nama Allah dari mula hingga akhir). (HR. Turmidzi)
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW tersenyum, beliau menjelaskan ketika seorang Muslim tidak membaca Basmalah sebelum makan, maka syaitan akan ikut makan dengannya. Namun, ketika Muslim tersebut teringat dan menyebut nama Allah SWT, maka syaitan pun langsung memuntahkan makanan yang sudah dimakannya.
Rasulullah SAW juga bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT meridhai seorang hamba yang ketika makan suatu makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka dia pun mengucapkan Alhamdulillah.” (HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)
5. Makan dengan tangan kanan.
Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa ‘alaa aalihi wa sallam bersabda,“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022).
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019)
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020)
Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “karena tangan kiri digunakan untuk cebok dan memegang hal-hal yang najis dan tangan kanan untuk makan, maka tidak sepantasnya salah satu tangan tersebut digunakan untuk melakukan pekerjaan tangan yang lain.” (Kasyful Musykil, hal 2/594).
6. Memakan makanan yang terdekat dahulu.
Umar bin Abi Salamah ra. bercerita : “Saat aku belia, aku pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua tanganku seringkali mengacak-acak piring-piring. Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ’Nak, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain juga dikatakan, “Sesungguhnya termasuk pemborosan (perbuatan yang berlebihan dan dimurkai Allah) bila kamu makan apa saja yang kamu (bernafsu) ingin memakannya”. (HR. Ibnu Majah)
7. Tenang, perlahan dan tidak terburu buru.
Janganbersikap rakus sehingga tampak mulut penuh dengan suapan, dan jangan meniup-niup makanan atau minuman yang menunjukkan sikap tidak sabar.
Dari Ibnu Abas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum dengan sekali tegukan seperti minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali tegukan. Ucapkanlah ‘bismillah’ jika kalian minum dan ‘alhamdulillah’ jika kalian selesai minum”. (HR. Turmidzi).
Dalam hadis lain disebutkan: “Dari Abi Qatadah RA, sesungguhnya Nabi SAW telah melarang bernafas dalam air minumannya “.(HR.Muttafaqun ALaihi)
8. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Dari Mikdam bin Ma’dikarib ra. menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Tiada memenuhi anak Adam suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)
9. Mengambil makanan dan minuman secukupnya.
sehingga bisa dihabiskan tanpa sisa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.Artinya :
Dari Jabir katanya, Rosululloh saw. menyuruh membersihkan sisa makanan yang di samping piring maupun yang di jari, seraya bersabda : “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dibagian manakah makananmu yang mengandung berkah”. (HR. Muslim).
10. Makan Sambil duduk, dan tidak berdiri.
Hal ini seiring dengan hadis Nabi: Dari Qatadah, dari Anas dari Rasulullah SAW, bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah melarang orang minum sambil berdiri”. Lalu Qatadah bertanya kepada Anas: Kalau makan bagaimana? Ia pun menjawab: “Hal itu (makan dengan cara berdiri) lebih busuk dan jahat”. (HR. Ahmad, Muslim dan Turmidzi)
 “kalau bukan sekarang, kapan kebiasaan baik itu dimulai?”
Semoga bermanfaat_


Aku Bukan Mereka

Oleh Syahidinar Akbari


Satu malam berlalu, sepi. Hanya jejak kenangan yang datang mengusik. Aku terlarut akan kepergian ayah 5 tahun yang lalu. Aku teringat semua kenangan saat ayah masih ada, sebuah keceriaan di rumah ini, yang kini hilang sejak kepergian ayah. Seketika, aku tersentak kaget saat bunda memanggilku.
“Lyra……bunda ingin bicara sama kamu!” kata bunda tegas.
“iii..iya bunda, Lyra akan segera kesana!” kataku gugup.
Aku segera menemui bunda. Seperti biasa, bunda hanya diam dan menatapku tajam. Setelah beberapa menit kemudian, bundapun mulai bicara.
“Lyra, bunda kecewa sama kamu. Tadi Bu Ira telepon, katanya nilai kamu turun!” kata bunda.
Belum sempat aku jawab bundapun melanjutkan bicaranya.
“kamu seharusnya contoh kakak kamu, dia selalu mendapat juara kelas, nilainya juga tidak pernah turun. Tidak seperti kamu yang bisanya main-main saja, hingga nilaimu turun!” lanjut bunda.
“maaf bunda, Lyra akan memperbaikinya.” kataku lirih.
Keesokan harinya, ketika pulang sekolah. Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku terdiam di sudut kelas, berfikir keras untuk bisa menjadi yang dibanggakan bunda. Selintas aku teringat atas ucapan bu Ira, bahwa aku dan Thya terpilih mewakili sekolah kami untuk lomba OSN matematika, lomba itu akan dilaksanakan minggu depan. Akupun tersenyum, juga menangis berharap bisa menjadi juara. Tiba-tiba Lia datang menghampiriku. Lia adalah sahabatku sejak SMP. Dialah satu-satunya orang yang mengerti aku, dan selalu setia mendengarkan segala keluh kesahku.
“Heii, ngapain masih disini?” tanya Lia
“Ooh, ngak lagi ngapa-ngapain kok, ini juga udah mau pulang!” jawabku
“Oya, selamat ya kamu terpilih untuk ikut OSN matematika” katanya dengan penuh semangat.
“Hehe, iya makasih ya li…” kataku
“sama-sama” jawabnya singkat.
Sesampainya dirumah aku terdiam, takut dan bingung  saat melihat bunda yang sudah berdiri di depan pintu, wajahnya terlihat marah.
“Lyra, kenapa kamu baru pulang?” tanya bunda ketus.
“maaf bunda” jawabku
“Kamu tuh ngak pernah mau nurut sama bunda. Coba kamu lihat si Nina anak bu Yuli. Dia selalu nurut sama ibunya. Seharusnya kamu bisa contoh dia.” jelas bunda.
Hari yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Aku segera bergegas ke sekolah untuk berkumpul dengan Thya dan beberapa orang guru yang akan mendampingi aku dan Thya mengikuti OSN. Sesampainya di SMAN Pelita, tempat dilaksanakannya OSN matematika. Aku menjadi gugup, karena aku melihat begitu banyak siswa/siswi dari sekolah lain yang akan mengikuti OSN juga. Namun, semua kecemasan itu memudar setelah aku mengingat tekadku untuk membanggakan bunda.
Pemenang lomba OSN akan diberitahukan 3 hari setelahnya, namun baru akan diumumkan di sekolah pada hari Senin, seusai upacara bendera. Aku tak sabar menunggu pengumuman tersebut. Sampai pada akhirnya, hari itupun tiba. Ternyata aku mendapat juara 3. Juara 1 diraih oleh Thya dan juara 2 diraih oleh Lulu dari SMA Harapan. Aku sedikit kecewa, namun aku tetap senang karna masih bisa dapat juara. Aku tidak sabar umtuk memberitahu bunda dan memberikan piala ini untuk bunda. Semoga saja bunda bisa bangga padaku.
Saat aku melangkah menuju kelas, aku mendengar beberapa orang yang sedang membicarakan aku dengan Thya mengenai pengumuman tadi.
“Eh, kasian banget ya si Lyra cuma dapet juara 3.”
“Iya, bener. Beda banget dengan Thya ya, dia hebat banget bisa dapet juara 1. Huuft, pasti bangga banget tuh ibunya punya anak seperti dia”
“iya, aku tahu, tapi jangan bicara seperti itu dong! jangan banding-bandingkan aku dengannya” sahutku dalam hati.
Di saat yang sama, bu Ira menghampiriku.
“Lyra, kenapa kamu Cuma bisa dapet juara 3?” kata bu Ira
“seharusnya kamu bisa belajar banyak dari Thya. Walaupun, dia aktif mengikuti banyak ekskul, tapi dia tetap bisa menjadi juara, dan nilainya juga tidak pernah turun!” lanjut bu Ira.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam, saat semuanya membanding-bandingiku, dan hanya bisa diam saat mereka memuji orang lain dihadapanku, tanpa memperdulikan perasaanku. Aku berharap kali ini bunda tak marah padaku dan bisa bangga padaku, karna satu hal yang ku inginkan adalah membuat bunda bannga memiliki anak seperti aku. Namun, rasa pesimis muncul setelah mengingat perkataan beberapa orang tadi dan bu Ira.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Baca kisah selengkapnya di buku : 
ANAKKU, MUTIARAKU
(Rangkaian Kisah Inspiratif Tentang Buah Hati - Dilengkapi dengan Ulasan Medis dan Psikologis)

Penulis: Erni Misran, dr. Zulham, dkk

Penerbit: Pena Nusantara
ISBN: 978-602-1791-769
Tebal: xiv + 207 halaman
Harga Cetak: Rp. 40.000 (belum ongkir)
Harga e-book: (menyusul)
Pemesanan: 085771860444 (an. Linda, Pembelian) atau Ibu Erni Misran.



Buku kedua yang menampilkan salah satu tulisanku.
#AnakkuMutiaraku #AkuBukanMereka

Cita-cita?


                Ketika aku kecil, aku bingung dan bertanya-tanya,  “apa sih cita-cita itu? Kenapa harus punya cita-cita? Bagaimana cara agar bisa mengapai cita-cita?”
Selalu ada pertanyaan “Apa cita-citamu?”, yang ada di pikiranku, pertanyaan itu sama saja dengan bertanya “ kalau sudah besar mau kerja apa?”, sejak TK sampai SD, pilihanku jatuh pada GURU. Simple saja alasannya, karena aku ingin seperti Ibu Guru yang bisa mengajar di kelas. Mungkin saat itu aku baru mengenal sedikit macam profesi seperti guru, dokter, pilot, pramugari.
Setelah menginjak SMP, aku mulai banyak tahu macam profesi, seperti APOTEKER. Baru pertama kali aku mendengar kata APOTEKER aku langsung tertarik, karena terdengar keren. Akhirnya aku berubah haluan ingin menjadi Apoteker yang saat itu aku tau menjadi seorang apoteker itu kerjanya meracik obat. Saat kelulusan SMP, aku sempat bingung antara masuk SMAN 98, yang memang keinginanku dari dulu atau SMK FARMASI NUSA BANGSA yang bisa langsung sejalan dengan cita-citaku. Akhirnya aku daftar dikeduanya, tetapi hatiku lebih condong ke SMA, karena suatu alasan yang mungkin tidak penting. Yah, tidak penting…., setelah pengumuman, dan aku dinyatakan diterima di SMA 98, akhirnya aku pilih itu, dan tidak mengikuti ujian masuk SMK Farmasi.
Saat menetapkan masuk SMA, aku tidak berpikir kalau di SMA itu aka nada penjurusan, dan setelah mengetahuinya ada sedikit rasa penyesalan karena aku jadi benar-benar bingung. Karena sejujurnya aku lebih menyukai bidang IPS dan aku lebih suka menghafal dibandingkan IPA, yang banyak hitungan. saat SMA aku benar-benar sudah mantap ingin kerjanya di lingkungan sekolah atu di rumah sakit, selain itu aku ngga berminat. Aku ingin masuk IPS karena ingin menjadi guru bahasa Indonesia, mungkin karena aku suka menulis. Dan aku ingin masuk IPA karena ingin menjadi apoteker karena bisa kerja di rumah sakit. Benar-benar bingung, tetapi karena orang tua lebih cenderung setuju ke IPA, dan saat itu aku merasa penilaian “subjektif” tentang IPA itu lebih baik, akhirnya aku memilih IPA, dan Alhamdulillah aku masuk IPA, faktanya masuk IPA itu sulit, karena banyak yang berminat. Ketika sudah memasuki masa pembelajaran di IPA, aku sedikit merasa tak sesuai dengan keinginan. Yah, lagi-lagi karena aku merasa lebih kuat dihafalan ketimbang hitungan. tetapi, setelah dilaluinya dengan keikhlasan dan kesungguhan Alhamdulillah aku bisa mengikuti dengan baik. nah, ketika SMA kelas IX, aku dihadapkan denga kebingungan kembali. Harus sudah menentukan  akan melanjutkan kemana, “kerja atau kuliah?” tentunya hati kecil ingin kuliah, “kuliah dimana?” aku masih belum tahu, “jurusan apa?” aku semakin bingung.
Sudah melewati masa UN aku masih bingung untuk menentukan rencana selanjutnya. Tetapi, setelah aku menghadiri acara bedah kampus 39 aku menjadi ada pencerahan buat mementukan PTN dan jurusan yang akan aku pilih lewat jalur SNMPTN. Aku ikut program IPC, jadi diberikan pilihan tiga. Pilihan pertamaa, aku memilih UNJ-PEND.BAHASA INDONESIA, kedua UNJ-BIOLOGI, ketiga UNJ-PEND.TEKNIK BANGUNAN. Berikut alasannya :
1.       PEND. BAHASA INDONESIA : karena aku suka menulis, dan aku ingin kerjanya di Sekolahan.
2.       BIOLOGI : karena diantara materi IPA yang lain, biologi itu cenderung banyak hafalan.
3.       PEND. TEKNIK BANGUNAN : karena aku suka menggambar, dan aku ingin hobby aku bisa sejalan dengan keinginannku kerja di Sekolahan.
Setelah mengikuti acara itu, ada juga acara bedah kampus 98 yang memang diadakan oleh sekolahku. Alhamdulillah, setelah aku menghadiri acara itu, dan mendatangi stand POLTEKKES 2 JAKARTA. Aku benar-benar tertarik pada jurusan TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI. Wiiiih, di antara yang lain aja namanya jauh lebih panjang. Semakin penasaran, akhirnya aku banyak bertanya tentang jurusan tersebut. Ternyata, itu ada kaitannya sama roengent, USG, CT-SCAN, MRI. Wah, denger nama-namanya aja langsung tertarik. Padahal belum paham banget.
                Awalnya, orang tua masih kurang setuju karena lokasinya yang sangat jauh, tetapi dengan meyakinkan mereka akhirnya diizinin. Akhirnya aku mengikuti ujian tulis masuk Poltekkes. Harapanku sangat besar agar bisa keterima disini. Setelah pengumuman, ternyata aku dinyatakan lulus dan menempati urutan 30an (tepatnya aku lupa). Beberapa hari kemudian, pengumuman SNMPTN, dan Alhamdulillah juga aku keterima di pilihan aku yang ketiga PEND. TEKNIK BANGUNAN. Tanpa ada keraguan, aku mantab untuk memilih POLTEKKES. Yeah….
                Setelah uji tulis dinyatakan lulus, ada uji kesehatan, dan akupun lulus. Akhirnya aku registrasi. Oya, karena waktu hasil uji tulis aku urutan 30an, dan masih dalam rentang urutan 1-35 akhirnya aku masuk ke kelas Reguler, yang biaya kuliahnya jauh lebih murah.ehehe. setelah masuk perkuliahan, aku baru tahu kalau nantinya akan menjadi Radiografer. Awalnya, aku kira akan banyak pelajaran fisikanya, ternyata cenderung ke biologi juga loh. Karena ada matkul Anatomi Fisiologi dan Patofisiologi. Disini juga sering menggambar tulang-tulang, terus mempelajari gambaran radiografi. Like this. Yaa, walaupun ada satu hal yang membuat aku merasa rada takut, karena bahaya radiasinya. Hmm, aku yakinkan pada diri sendiri bahwa semua pekerjaan itu pasti memiliki resiko. Lagipula, kita kan diajarkan tentang proteksi radiasi. Jadi, insyaAllah aman kalau kita menjalankannya dengan baik.
                Sekarang aku sudah mau tingkat 2, dan untuk disemester 3 ini, sudah dibagikan daftar Rumah Sakit untuk PKL. Wah, cepet banget kan. Untuk putaran pertama aku di RS. BUDHI ASIH, kedua RS. PASAR REBO, dan ketiga RS. HARAPAN BUNDA. Semoga, PKLnya berjalan dengan lancer dan bisa bekerja dengan sebaik mungkin.

~ jangan memilih cita-citamu berdasarkan “kata orang” tetapi berdasarkan “kata hatimu” ~



1 Juli 2013

Yuk berhijab..


            Pengalaman menarikku tentang berkerudung itu ketika aku  baru pertama kali menggunakan kerudung, saat itu orang-orang di sekelilingku memberi ucapan selamat dan mendoakanku agar senatiasa bisa berhijab dengan baik dan terutama mempertahankan hijabku agar keyakinanku itu tidak berubah atau bisa dibilang tidak copot kerudung. Ketika itulah aku benar-benar merasa senang dan diperlakukan layaknya orang yang sedang berulang tahun, yang diberi ucapan selamat, doa, dan hadiah. Hehehe…
Awalnya, aku masih ragu untu berkerudung karena baju  lengan panjang, rok, dan kerudungku hanya sedikit bahkan  gamis tidak ada. Tetapi, setelah aku berkerudung atas rezeki dari-Mu, kini  kerudung, baju, gamis, dan rokku  semakin bertambah dengan berbagai model dan warna. Alhamdulillah.. 

            Hal  yang membuatku memutuskan untuk berkerudung yaitu, ketika aku membaca sebuah buku, dan disitu tertulis: Aurat bagi muslimah adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Rasulullah saw. Bersabda, “Asma, sesungguhnya perempuan itu, jika telah baligh, tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini (sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya).” Akupun langsung termenung membacanya, aku ini  seorang perempuan dan telah baligh, sudah seharusnya untuk menutuk aurat. Hatiku masih ada keraguan untuk berkerudung, tetapi selah membaca sabda Rasulullah  saw  yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, yaitu “Sesungguhnya wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mengajak wanita lain untuk mengikutinya dan mengundang laki-laki untuk berbuat jahat. (Para wanita jenis ini) tidak akan masuk surga.”  Aku benar-benar tersentil membacanya, hatiku bergetar karena takut tidak masuk surga, karena tempat kembali manusia, kan, Cuma dua. Kalau enggak ke surga, berarti ke neraka. Na’udzubillahi min dzalik..

            Saat pertama kali menggunakan kerudung, aku  masih merasa jengah dan tidak biasa. Terkadang saat hendak ke warung, aku lupa untuk memakai kerudung. Sudah  di depan pintu gerbang, baru tersadar dan cepat-cepat memakainya. Setelah menggunakan kerudung aku juga merasa nyaman, karena  dengan berkerudung aku memiliki identitas yang jelas dan terang sebagai seorang muslimah. Aku juga merasa diperlakukan lebih baik oleh orang-orang, Baik perempuan maupun laki-laki. Ketika seorang perempuan yang tidak berkerudung dan mengumbar auratnya berjalan di tempat umum, mereka akan dipandang sinis oleh masyarakat, umumnya perempuan. Tidak jarang, mereka juga akan dipandang yang melecehkan dari para pria jahil dan di sapa “hai cewek, kamu seksi banget deh”, suatu  kalimat yang tidak enak didengar. Berbeda dengan kita yang berkerudung, kita akan lebih dihormati keberadaannya, kalaupun disapa pria jahil, mereka akan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”, yang berarti semoga Allah memberi keselamatan padamu.
            Selain itu, aku juga sempat merasa takut ketika memutuskan untuk berkerudung. Utamanya, aku sangat takut tidak bisa konsisten  memakai kerudung. Maksudnya memakai kerudung kalo cuma ke sekolah aja, setelah itu dilepas. Astaghfirullahal’adzim. Saking takutnya, aku pernah bermimpi buruk, di dalam mimpi itu aku ke sekolah dan lupa memakai kerudung.. Ketika aku tersadar itu hanya mimpi, aku segera sholat malam dan memohon doa kepada-Nya, semoga itu tidak akan  pernah terjadi.. Untukku  itu benar-benar mimpi terburuk. Aku juga takut setelah aku berkerudung aku tidak  bisa menjaga sikap, hati dan pandangan. Berdasarkan  Q.S. An Nuur .31 yang artinya”Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman:Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya,dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak padanya, dan hendaklan mereka menutupkan kain kudung di dadanya.”
 Allah SWT memang telah memfitrahkan sebuah naluri kepada pria dan wanita sehingga keduanya bisa saling tertarik dan jatuh hati. Tapi, itu engga bisa dijadikan alasan buat kita untuk bablas aturan. Hal itu tidak hanya terjadi bagi mereka yang tidak berkerudung, untuk kita yang berkerudung juga sering dilema masalah hati, sulit menjaga hati dan pandangan. Itulah yang membuatku takut, karena aku  ingin setelah memutuskan untuk berkerudung aku bisa benar-benar berhijab, tidak hanya hijab diri tetapi hijab cinta juga sangat penting. InsyaAllah..
Saat aku memutuskan untuk berkerudung, ketika lulus SMP, orang tua, saudara, serta sahabat-sahabatku sangat mendukung. Mereka merasa bangga denganku karena bisa mengambil keputusan yang tidak mudah. Banyak yang bilang, dengan aku  memakai kerudung, aku terlihat lebih cantik. Hehehe, jadi kepedean. Namun ada juga yang bingung dan bertanya-tanya kepadaku, “kenapa mau kerudungan? Bukannya lu suka ngoleksi kunciran, jepitan,dll. Terus mau dikemanain tuh?”. Aku hanya tersenyum dan menjawab, “ kita kan udah baligh, udah diwajibkan  menutup aurat. Walaupun berkerudung, tapi kan rambut tetep dikuncir. Walau  ngga  keliatan. Hehehe,” Hmm, sebelum aku berkerudung aku memang senang mengoleksi accesoris rambut, beragam bentuk dan warna. Selain itu ada juga yang berkata, “gue mah ngga mau pake kerudung,abis kalo pake kerudung itu udah kaya ibu-ibu pengajian aja, kaya orang tua”, hadeeh, ko ada orang yang berfikir seperti itu. Terus ada yang Tanya, “kamu  ngga gerah ya, udah pake baju tebel terus pake kerudungan ?”, lagi-lagi aku tersenyum dan menjawab,” hmm, sedikit gerah juga sih. Tapi tetap nyaman kok. Aku lebih gerah kalo dengan memakai pakaian tipis/transparan diliatin orang banyak.  Lagipula, kalo dibandingkan dengan panasnya api neraka. Jauh banget bedanya,”
Banyak dari mereka yang ragu untuk berkerudung karena alasan belum siap. Padahal ya ukh,.  ber-hijab adalah kewajiban dari Allah, maka tidak dibenarkan seorang wanita muslimah menyatakan dirinya tidak mantap atau belum siap ber-hijab. Karena sikap ini berarti mengambil sebagian perintah Allah  dan mencampakkan yang lainnya. Padahal Allah  berfirman yang artinya : ‘Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata [Qs.Al-Ahzab: 36
Ada juga yang mempunyai pemikiran bahwa kalau kita berkerudung nantinya kita akan sulit dapet pekerjaan. Saudariku  yang dirahmati Allah, menurutku  itu tidaklah benar, semua itu tergantung keahlian kita dan tentunya semuanya hanyalah Allah SWT Yang Maha Mengetahui yang menentukan. Tidak jarang, secara terang-terangan mereka menyatakan tidak ingin berkerudung karena tidak ingin menutupi kulitnya yang putih, rambutnya yang hitam  nan indah. Padahal ya ukh, kalau kalian tetap membiarkan aurat kalian  di pandang oleh kaum Adam yang bukan muhrim, hal itu juga bisa mendatangkan bahaya buat kalian loh. Jangan  jual murah tubuh kita. Kita ingin keberadaan kita dihargai dan dihormati, kan? So, jangan paksa orang lain memulainya, kalau kita sendiri belum melakukannya.
Awalnya mungkin sulit buat kita untuk memakai kerudung. Terasa jengah, enggak biasa, gitu. Tapi, kalau enggak dimulai dari sekarang kapan proses pembiasaan itu akan berjalan? Kita pastinya engga ingin dimasukkan ke dalam kategori cewek yang berpakaian tapi tidak berpakaian kan? Semua perempuan itu akan berkerudung, jika tidak sekarang semasa hidup, nanti saat kita meninggal kita akan dikerudungin dengan kain kafan. Ayo pilih mana? Memakai kerudung sendiri saat masih bernyawa atau dipakaikan saat kita telah tiada?